Tuhan Menghukum Dengan Matematika

  • Bagikan

Rami MZ – Saya menemukan sebuah hitungan tentang satuan dan ukuran jumlah sebuah benda saat saya duduk di bangku kelas dua sekolah dasar. Ayahku membelikannya, bentuknya seperti poster, lalu di bingkai, di jejerkan di dinding-dinding rumahku. Dibingkai dengan dua bilah bambu yang dibuat sejajar. Mirip di buat seperti galeri seni.

Isi poster-poster tersebut di mulai dari penjumlahan, perkalian, pembagian, angka romawi hingga ke ujungnya adalah tentang ikhwal ilmu hitung menghitung yang paling rumit. Jejeran poster hitam putih itu di atur sedemikian rupa berdasarkan tingkat kesulitannya, miripnya sebut saja dari kiri ke kanan rumusan tersebut menjadi semakin menyeramkan.

Di bagian tengah, seingat saya berisi rumusan cara menghitung luas persegi hingga berakhir di volume bola. Tak tahu apa yang ada di benak Ayahku saat itu.

Saya sungguh tak mengerti. Tetapi berkat itu saya menjadi melek ilmu yang paling di benci hampir separuh orang yang pernah menjejali Pendidikan dasar sembilan tahun (kala itu).

Matematika itu rupanya menjadi penanda kecerdasan seseorang. Tak tahu di tempat lain, di lingkungan masyarakat atau sesempitnya di lingkar keluarga saya. Setiap bertemu Orang yang lebih Tua, pasti saja keluar pertanyaan matematis.

Dek, nak, La Rami berapa dua di tambah dua atau lima di kurang tiga. Pertanyaann itu juga akan semakin sulit seiring bertambahnya usiaku. Heran saya mengapa?

Dari situ saya sedikit tahu mengapa Ayah saya menyediakan itu semua, meski itu pendapat pribadi.

Rupanya kehidupan itu adalah hitungan-hitungan, tak terkecuali. Mulai dari penjumlahan hingga perkalian yang paling rumit. Salah menghitung jumpalah kita pada kefatalan.

Perjumpaan kita pada sebuah kesulitan hidup, itu hanyalah masalah pembagian atau perkalian yang acap kali keliru, begitu sebaliknya hidup yang tenang dan bersahaja adalah akumulasi dari pembagian dan perkalian yang mumpuni, tepat, dan akurat.

Pantas saja, Matematika mesti di lahirkan, dari aljabar hingga kalkulus yang rumit segalanya tersimpan makna. Bahkan ke Surga atau ke Neraka pun anda mesti paham Matematika.

Karena kelak, Tuhan bersama Malaikat kan menggunakan Matematika untuk menghukum anda. Menghitung besar selisih pahala dan dosa, dan hasil dari hitungan matematis itu kita pun diberi tahu, Surga atau neraka-kah KITA.

Source : Rami Musrady Zaini.

  • Bagikan