Oligarki

  • Bagikan

Oleh: Rami Musrady Zaini


Di ujung senja saya masih saja menemukan kata-kata yang sampai kini menjadi perbincangan dalam tema-tema sosial, ekonomi, bahkan politik.

Penguasa, hartawan, dan Oligarki terus hidup kiranya sampai senja yang kesekian ribunya. Tema Oligarki inilah yang menjadikan Karl Max menulis Das Kapitalnya, dalam bukunya ia menentang perbedaan kelas dalam tatanan sosial bernegara, ia menginginkan kesetaraan tak ada sekat antara borjuis dan proletar dalam istilah Marx.

Tetap saja, hingga kini diskursus itu tetap menghidupi ruang dan nafas keseharian kita. Prisma lewat LP3ES menurunkan kumpulan jurnalnya soal oligarki dengan judul Demokrasi di Bawah Cengkraman Oligarki. Ada banyak tulisan ilmiah mengenai-ITU di dalam tesis Prisma.

Ali Syariati pemikir Islam Iran juga pernah menyibak soalan oligarki ini, hingga menjadikannya Martir, ia mengusung tema pemberontkan kepada rezim dan meledakkan revolusi islam Iran yang dramatis di Asia Selatan.

Di India ekonom Armartya Sen menulis disertasinya soal oligarki ekonomi di negaranya, dimana arus kapitalisme yang bergurita cukup membuat jurang antara si kaya dan si miskin. Lewat essaynya Poverty and Famines, Inequality Reexamined, dan Welfare Economics ia memotret kemiskinan di negerinya dan dari cerita kemiskinan itu ia mendapatkan Nobel ekonominya di tahun 1998.

Lantas bagaimana oligarki di Negeri Kita?

Daniel Dhakidae menulis Negeri kita telah membuka keran oligarki itu sejak lahirnya. “Namun, kemerdekaan harus diisi, dan lagi-lagi yang harus mengisinya adalah para hartawan, orang kaya.” Tulis Daniel.

Kita tahu dengan program banteng tidak lain adalah program membuka harta, sumber daya bagi hartawan, program yang membuat ikatan pengelola negara dan para hartawan. Tak berhenti disitu, semua berlanjut hingga orde baru.

Orde baru malah menguatkan Oligarki untuk Negara, mengubah siklus hartawan dan negarawan menjadi negawaran yang hartawan. Oligarki yang dulu dikenal filsuf tua yunani sebagai plutokrasi itu terus hidup sampai kini.

Tak perlu tercengang, kita menikmatinya saja dan tidur di atas ranjang empuk oligarki. Sebab berkuasa sekarang, anda harus belajar menjadi oligartoris. Berkuasa untuk menjadi hartawan dan berharta demi berkuasa.

Tabik dan tabik.

Source: https://www.facebook.com/ramimusrady

  • Bagikan