Muna Nol Kilometer : Sains, Humor, dan Refleksi Kesadaran

  • Bagikan

Tanah Muna dipercayai sebagai tanah berkah, Tanah tempat lahirnya para perantau yang jagoan di luar sana….Di sini, tongkat kayu dan batu tak hanya jadi tanaman, bahkan dijadikannya juga alat tawuran, yang seolah lumrah dan tak pernah dapat diselesaikan. (Muhram Naadu, Muna Nol Kilometer)

MEREKA yang mencinta teori kebijakan sudah tentu mengenal Thomas Hobbes yang hidup di pusaran waktu 1558 hingga 1679, ia yang pertama menjabarkan manusia sebagai serigala bagi manusia yang lain, namun disi lain ialah juga pendasar utama teori tentang a sense of superiority, teori humor yang terungkap dalam tawa. Dari pijakan pemikiran hobbes diketahui bahwa humor adalah anak kandung politik, dan politik sebagai anak kandung humor.

Hobbes memberikan semacam fenemenologi tentang hubungan tawa dan kekuasaan, menurutnya humor dari sisi fisikal semata-mata seperti laughter, tawa dan tawa begitu eratnya dengan kekuasaan, power. Itu semuanya berlangsung menurut asumsi dasar kekuasaan: Kekayaan adalah kekuasaan; berasal dari keluarga berpengaruh adalah kekuasaan; menjadi terpelajar adalah kekuasaan; menjadi terpelajar adalah kekuasaan; kekayaan adalah kekuasaan; menanti suatu perintah artinya mengakui kekuasaan orang lain. Singkatnya dalam hubungan ini, tawa, tertawa, ketawa, menertawakan adalah penanda kekuasaan.

Sebab karena tidak lain tawa adalah mengeluarkan suara meledak-ledak…karena rasa suka, geli, atau menghina (KBBI). Hobbes mengungkap kegiatan manusia yang sadar akan kekuasaan, maka tawa, tertawa, ketawa adalah ungkapan sudden glory, kegirangan besar dadakan dan menunjukkan rasa superior.

Sains dan Humor

Dari Hobbes saya hendak memberanikan diri mendedah pemikiran-pemikiran La Ode Muhram Naadu dalam Muna Nol Kilometernya, tulisan-tulisannya yang saya anggap renyah tapi menggugah, mengena tetapi jenaka ini membicarakan sebuah daerah yang bernama Muna.

Saya pikir buku ini akan menarik, karena melihat hubungan penulis dalam melihat daerahnya sendiri melalui buku ini. Sudut pandang dari orang dalam biasanya lebih terukur dalam menarasikan sebuah fenomena atau rentetan peristiwa yang terjadi di dalamnya dan Muhram tepat sebab lingkungan sangat menentukan sebuah wacana.

Buku ini mendadar beragam tema yang dimulai dari fenomena-fenomena, aktual, politik, asmara, lampau hingga wisata. Meminjam istilah Hume, buku ini adalah kepingan rentetan-rentetan peristiwa dan saya melanjutkannya dengan kepingan dari yang lampau hingga post kekinian. Muhram menjembatani keseluruhan peristiwa itu dalam buku ini, menuntunnya dalam bahasa-bahasa anak muda Muna sekarang dan dibungkusnya hampir seluruh narasi dengan kejenakaan.

Mungkin Muhram sadar atau paling tidak sependapat dengan Hobbes bahwa tawa, tertawa, ketawa, menertawakan adalah penanda kekuasaan. Dari buku ini meski saya melihatnya subjektif, Muhram menuntunnya kedalam realitas kesadaraan yang menjadikannya buku ini objektif, persis seperti kebenaran dalam mahzab filsafat empirisme, bahwa realitas pengalaman adalah kebenaran sejatinya.

Lihat saja lagi di babakan awal buku ini, Muhram berani membandingkan Muna dalam artian sebuah kabupaten dengan usia manusia dengan judul 60 tahun kabupaten Muna, sebuah perbandingan yang berani menurutku. Membandingkan sebuah Muna Kabupaten yang kebendaan dengan manusia yang bersiklus pendek. Pendeknya, muhram mencoba menggugah kekuasaan bahwa di usia ke enam puluh kabupaten Muna senantiasa mesti menanjak dan terus-terus bangkit.

Pengalamannya sebagai Muna pula – melalui buku ini Muhram menyentil ruang-ruang kekuasaan di etape pertama Muna fenomenalnya, mengajak relasi kuasa untuk menciptkan sebuah city brand untuk Kabupaten Muna dan beberapa fenomena lainnya. Dari sini perlahan-lahan Muhram mulai berkuasa.

“Dalam kondisi kekinian, keberadaan Masjid dan Monumen Pesawat adalah suatu kesyukuran besar untuk masyarakat Muna. Namun di sisi lain, kita butuh suatu ikon, suatu branding, yang benar-benar mewakili kita, yang benar-benar mewakili kita, yang nyata ada dan dapat kita banggakan.”…Muhram, 80.

Tak berhenti disitu, dalam Beginimi Kota Raha? Muhram mengajak berpikir “pun pemerintah lambat nan minim kreasi, selayaknya kita jualah yang membentuk kultur kesadaran. Sebab kita sering luput dari pertanyaan, apatah arti sebuah pengakuan kita sebagai masyarakat Kota Raha. Sudah beginimikah cara kita mencintai Kota Raha ini? Maemo, sadar-sadarmi kune kasian.”

Begitu kiranya Muhram dalam buku ini menggugah kesadaran-kesadaran dalam memaknai bagaimana semestinya bukan seharusnya Muna atawa Kota Raha ini bergerak. Hal lain yang lainnya juga cukup menggelitik dilanjutkannya dengan kata Muhram Jatinya Muna mungkin hilang, logatnya Jangan!

Clear, Jenaka tapi menohok.

Refleksi Kesadaran

Jika kesadaran adalah mengerti akan keadaan, sesederhananya Muhram nampaknya tak mengambil definisi itu, ia memberontak. Ia mengajak merenungi dan memaksa mengerti dengan keadaan sesejatinya yang membumi di negeri jati itu sekarang. Memaksanya dengan meminjam istilah Rendra bahwa kesadaran tak sesederhana itu, kesadaran adalah Matahari dan perlu keberanian untuk mengungkap masalah yang terjadi. Bahwa kesadaran itu itu perlu diperjuangkan seperti layaknya perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata.

Muhram berbicara dalam judul ‘kampung politisi’ menuduh bahwa di Muna ibarat kampung yang terlampau melimpah intelektual yang terlalu condong ke dalam kamar politikus. Ini masalah buatnya. Katanya “tak peduli background. Tujuh tahun belajar ilmu tanah, bukan jaminan jadi ahli pertanian. Lima tahun berguru soal mesin, orientasi tak lantas ke industri. Tak jua pernah peduli pada statusnya ASN. Semua dalam satu cita dan laku yang teridentifikasi sebagai pakar politik.”

Judul Buku : Muna Nol Kilometer. Penulis : La Ode Muhram Naadu (2020)

Singgungan itu cukup berarti, memantik kesadaran bahwa dari sudut pandang orang luar, realitas Muna memang seperti itu, terlalu berkelimpahan orang cerdas namun nirfaedah, semua bergerak dalam ruang dan imajinasi politican atau paling tidak terpaksa (harus) menjadi politisi.

“Berbusa-busa pembahasan. Beragam strategi diletup-letupkan. Terkekang dalam diskursus politik kekuasaan. Pokoknya tentang siapa dan bagaimana yang harus berkuasa. Jangan tanya ketinggian kajiannya, langitpun tak mampu batasi. Tinggi di atas tinggi, terlihatnya. Notabene kosong, ilusioner.” …Muhram, Kampung Politisi. 119.


Muhram sepertinya sadar, sebagai intelektual muda dalam kesadarannya ia resah. Sepertinya Muna mesti berbenah, setidaknya seperti itu dalam buku ini. Bahwa politik saja tidak cukup untuk mengubah Muna.

“Namun manakala semua mau jadi politisi, yang terjadi adalah seperti kata Hobbes, Bellum ominium contra omnes. Semua lawan semua. Begitulah kondisinya.” Muhram, 120.

Untung saja, Muhram tak terhenti disitu melalui judul-judul selanjutnya Muhram kemudian mengantar sebuah keindahan kesadaran bahwa setiap peristiwa-peristiwa tak pernah lepas dari bangunan asmara dan kisah-kisah romantisme. Kisah cinta Wa Abe dan La Ege adalah realitas keindahan itu.

“Begitulah Ege, apa yang ada sajalani apa adanya…berjanjilah Ege, kau tak akan pernah berubah, hingga suatu nanti kau pulang untuk membangun wite barakati ini.” Pesan yang sarat makna dalam cerita Wa Abe dan La Ege dalam tulisan ini, ada konteks keberanian untuk mengubah muna dari kalimat cinta. “Sa berjanji padamu, diantara daun-daun jambu mete yang berguguran…Percayalah, meski jati disini disikat habis, meski laut disini ditimbun terus, cintaku padamu tak akan pernah berkurang, sebiji kambuse pun. Asiangko.”

Over All, buku ini memang menarik, disusun dengan permainan humor yang dikawinkan dengan sains yang melahirkan gugusan-gugusan kesadaran. Jika saya meminjam istilah Hegel dengan dialetektis historisnya buku ini memiliki tesis humor, mengandung antitesis sains dan pada akhirnya bersintesa pada kesadaran-kesadaran.

Dan pada akhirnya “Di sana Amerika Di sini Muna.”

Souce : Selamat HUT Kabupaten Muna. Oleh Rami Musrady Zaini

  • Bagikan